Sabtu, 29 Maret 2008

Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”
Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.
Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”
Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.
Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
NOTE :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita

Time To Change

Berhasil mengatasi masalah akan mengantarkan kita
pada posisi yang bagus untuk mengatasi masalah berikutnya.
Kesuksesan kita akan menjadi bekal yang sangat baik untuk mencapai kesuksesan2 berikutnya.
Orang yang kaya menjadi lebih kaya bukan karena
harta yang dimilikinya, namun karena arah yang
benar dalam usaha dan kehidupannya;
tindakan yang benar dalam langkah-langkahnya,
sehingga kesuksesan itu akan muncul ber-ulang2!
Kalau dalam kehidupan, kita melihat yang kaya makin kaya,
yang miskin makin miskin. Memang itu yang terjadi.
Sekarang lihatlah kehidupan kita. Apakah kita makin kaya
atau makin miskin? Jika kita makin miskin, maka segeralah berbalik arah.
Kita pasti melakukan kesalahan yang mungkin tidak kita sadari. Jika kita
tetap menjalani apa yang kita lakukan sekarang ini, maka kemungkinan
kita akan semakin terpuruk. Namun jika kita merasa makin kaya, maka
melangkahlah makin cepat. Berlarilah! Karena arah Kita sudah benar.
Jika kita cenderung mengalami kemerosotan
dalam taraf kehidupan, maka saatnya sekarang
berbalik arah! Ubah arah kita karena itu tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Kita telah melakukan kesalahan!
Sekaranglah saatnya KITA berubah! Kemalasan kita
ubah menjadi ketekunan. Kesombongan kita harus
diubah menjadi keramahan. Kesederhanaan kita dalam
berpikir harus kita ubah dengan kreativitas
yang genius. Kelalain Kita harus kita ubah dengan
kewaspadaan yang tajam. Waktu kita harus diisi
penuh dengan aktivitas, detik demi detik.
Pikiran negatif kita harus diubah dengan pikiran positif.
Apakah mudah? Jangan bertanya lagi! Begitu kita ingat
maka lakukan perubahan itu, terus menerus, hingga kita
tidak akan merasakan itu, dan kita sudah berbalik arah.
Ya, sekaranglah saatnya kita banting setir!
Rasakan perubahan itu. Bila kehidupan kita sudah
mulai membaik, maka semangati untuk melakukan lebih
kencang, bergerak lebih cepat, berpikir lebih taktis
dan lakukan terus hal-hal baik yang sudah membuat
kehidupan kita menuju arah yang benar.
Ingat! Orang yang kaya semakin kaya, bukan karena dia
memiliki harta lebih banyak, namun karena dia sudah
berada diarah yang benar. Kesuksesan yang dia capai
telah membuat efek domino untuk kesuksesan berikutnya!
Sumber :
Efek Domino Kesuksesan
(disadur dari Buku: Time To Change Hari Subagya)

Tentang Waktu

Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Rabu, 12 Maret 2008

Diriku yang tak bersyarat

Aku adalah aku
Engkau tak bisa mengubahku, maka jangan coba-coba
Tinggalkan kritik-kritikmu, tinggalkan semua usahamu untuk membuatku sesuai dengn kotak yang cocok hanya untuk dirimu

Hadapilah, masalahnya akan jauh lebih mudah jika engkau menerimaku apa adanya
Daripada membuatku seperti apa yang kau pinta

Tentu saja engkau mesti setuju dengan apa yang kukatakan dan kulakukan
Hanya saja terimalah aku sebagai manusia biasa
Aku lemah, berdosa, gagal dan membuat kesalahan dalam hidupku

Hey, bukakankah itu yang membuatku menjadi seseorang yang unik
Aku tak akan pernah menjadi sempurna, ideal dan menjadi produk seperti yang kau pinta

Terimalah apa adanya sebagaimana aku menerimamu apa adanya
Mari kita bergembira, bersukaria dan biarkan diri kita yang sesungguhnya bebas menjadi apa adanya

Jadilah diri kita sendiri dalam lautan cinta tak bersyarat
Saling menerima
Membiarkan semua ini terjadi
apa adanya

Anak-anak belajar dari kehidupan

Jika anak hidup dengan kritikan,
Ia akan belajar mengutuk.
Jika anak hidup dengan kekerasan,
Ia akan belajar melawan.
Jika anak hidup dengan ejekan-ejekan,
Ia akan belajar menjadi pemalu.
Jika anak hidup dengan dipermalukan,
Ia akan belajar merasa bersalah.
Jika anak hidup dengan toleransi,
Ia akan belajar bersabar.
Jika anak hidup dengan dorongan,
Ia akan belajar percaya diri.
Jika anak hidup dengan pujian,
Ia akan belajar menghargai.
Jika anak hidup dengantindakan yang jujur,
Ia akan belajar tentang keadilan.
Jika nak hidup dengan rasa aman,
Ia akan belajar mempercayai.
Jika anak hidup dengan persetujuan,
Ia akan belajar menghargai hiudpnya.
Jika anak hidup dengan P E N E R I M A A N dan persahabatan
Ia akan belajar untuk menemukan cinta di muka bumi

Reputasi dan karakter

Lingkungan tempat anda hidup menentukan reputasi anda
Kebenearan yang anda yakini menentukan karakter anda
Reputasi mengharapkan anda siapa
Karakter adalah siapa anda sebenarnya
Reputasi adalah foto
Karakter adalah wajah
Reputasi datang dari luar
Karakter tumbuh dari dalam
Reputasi adalah apa yang anda miliki ketika tiba di komunitas baru
Komunitas adalah apa yang anda miliki ketika anda pergi
Reputasi terbentuk dalam sesaat
Karakter anda dibangun seumur hidup
Reputasi anda dipelajari dalam sejam
Karakter anda tidak kelihatan sampai setahun
Reputasi tumbuh seperti jamur
Karakter bertahan abadi
Reputasi membuat anda kaya atau miskin
Karak ter membuat anda menderita atau bahgia
Reputasi adalah apa yang orang katakan tentang anda di batu nisan
Karakter adalah apa yang dikatakan malaikat di depan Tuhan

Akhir sebuah pemikiran adala tindakan

Suatu hari ada seorang gadis kesil berjalan setapak di depan rumahnya. Di tepi jalan ia melihat sekuntum mawar merah vbesar yang sedang mekar. Sembari takjub, jari-jari gadis kecil itu pun memetik bunga itu dan membawanya pulang. Ketika sampai di rumah, ia bingung, hendak ditaruh dimana bunga itu. Setelah cukup lama terdiam, anak itu pun teringat denga pot bunga usang yang jarang dipakai yang ada di dalam lemari. Maka ia pun pergi ke lemari, mengeluarkan pot tua itu. Setelah itu dicuci dan dibersihkannya hingga mengkilap. Pot itu lalu diisinya dengan air dan memsukkan bunga mwar ke dalalmnyanya. Sekarang bunga sudah punya tempat yang indah, tapi dimanakah pot itu akan ditaruhnya? Gadis kecil itu ingin menaruhnya di meja ruang tamu. Ketika sampai disana, dilihatnya meja usang dan kotor tersebut. Tak pantaslah bunga indah diletakkan di atasnya. Maka si gadis kecil berlari kecil mengambil taplak meja yang diambilnya di tempat tidur. Tapalk itu lantas ditaruhnya di atas meja. Kini meja itu layak bagi pot bunga. Namun gadis kecil itu merasa masih ada kekurangan. Ruang tamu itu gelap, semua jendela dan pintu masih tertutup. Maka ia mengambil kursi dan menaruhnya dekat jendela. Ia pun menaiki kursi, lalu dengan tangnya yang kecil sekuat tenaga ia mendorong agar jendela terbuka. Ketika akhirnya jendela yang terbuka, matahari yang bersinar dengan cerahnya menerobos dan menerangi seisi ruang tamu tersbu t.
Hal- hal besar sering dimulai dari kejadian kecil...perjalanan yang ber mil-mil jauhnya dimulai dari satu langkah.